I Try But I Cant

Bukan hanya tentangku, bukan hanya tentangmu..

Ini tentang persahabatan kita,

Meskipun aku tak pernah mengatakannya tapi kita sama-sama tau betapa kita saling menyayangi..

Tiada ada hari yang kulewati tanpa celotehan, senyum bahagia ataupun rengutan merajumu.

Hingga tiba hari itu.. hari dimana sepasang ayah dan ibu baru datang menyapa hidupmu,

Lalu membawamu bersamanya, meninggalkanku sendiri.. sendiri dalam kesepian.

Pada detik selanjutnya aku hanya melaluinya dengan sebuah penantian, aku menunggumu kembali padaku.. menjadi sahabatku dan kita akan bersama-sama lagi.

**

Berdiri kudisini, melihat tetesan air yang membasahi halaman café dan tentunya menghujani manusia-manusia modern diluar sana.

Saat musim semi, Kota London memang sering tertimpa hujan, yah kurasa itu alasannya. Atau mungkin.. langit sedang mewakilkan sendunya hatiku saat ini.

“Vic.. hey Vicka..”

“Eh? Kau sudah kembali,” ujarku setelah sebelumnya terkesiap kaget, didepanku seorang gadis dengan rambut gelap bertubuh ramping tengah mendengus skeptis.

“Kau selalu seperti ini.. selama bertahun-tahun kebiasaan melamunmu tak pernah hilang”

Ucapnya dengan nada mengejek,

“Wah nona Kim, kedengarannya kau selalu memperhatikanku, haha”

“Hya! Dasar kau ini.. suka sekali memanggilku begitu, panggil aku Shesil. Apa lidah Amerikamu itu alergi dengan namaku,” ujar gadis itu cerewet namun sepersekian detik kemudian wajahnya muram membuat senyum geliku menjadi kaku.

“Ada apa? Ada masalah?” tanyaku spontan sementara ia menarik kursi didepanku lalu dengan gerakan lambat, tubuhnya sudah mendarat didepan meja dengan kepala yang ditelungkupkan dibawah kedua lengannya

“Dad, ini gara-gara Dad.. ia.. ia menjodohkanku.” Ucapnya lirih disela-sela desahan nafasnya, “Memangnya aku ini tidak laku.. menyebalkan.”

“She, kau sedang tidak bercanda kan?” tanyaku memastikan

Shesil menarik wajahnya, iris cokelat gelap miliknya menatapku dalam.

“Apa aku kelihatan sedang bercanda? Lagi pula ini kan bulan oktober bukan april.”

“Siapa dia? Apa dia tampan?” Tanyaku padanya yang sedang mengacak rambut gelapnya dengan ekspresi frustasi

“Astaga. Apa itu penting? Aku tidak pernah bertemu dengannya.. di kuliah dikanada, oh Tuhan. Bisakah kau mengizinkanku kabur kerumahmu?”

“Apa?! Well.. jika kau bersedia tidur dengan anak panti, aku tidak keberatan”

“Ayolah Vicka, jangan mengujiku begitu.. kau kan anak kepala panti dan aku adalah teman mu, jadi.. jadi..” Shesil menghela nafasnya pelan “Yeah, terserahlah.. paling tidak kau harus menyelamatkanku dulu.”

“Jangan berfikir macam-macam.. menyelamatkanmu dari siapa, hah?” kataku malas sembari menyesap sisa cokelat panas dalam cangkirku.

“Tentu saja Dad, malam ini mereka akan datang,”

“She, dia adalah ayahmu.. aku yakin dia tau apa yang terbaik buatmu,”

Shesil memberi tatapan memelas layaknya anak penyu yang diusir berenag kelaut lepas.

“Jangan coba memakai ekspressi itu, ingat berapa umurmu..”

“Ayolah.. aku tak punya teman lagi selain kau—“

“Tidak. Jawabannya tetap tidak.” Potongku cepat

“Kau jahat sekali.. setidaknya temani aku kerumah sakit, oke?”

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s