A Choice I

Gambar

A Choice

 by Serka Kim

 

Cast :

Hanna, Kris, Andrew Choi & Adore

Genre :

Romance/Hurt

***

London, 28 November 2012

02:09am

Akhir minggu dibulan November,

Saat dimana angin musim gugur sedang bertiup kencang dan membuat dedaunan maple berjatuhan, ketika seharusnya aku tertidur pulas dalam selimut yang hangat aku memilih berdiri disini, di atas rerumputan berembun sembari sesekali merapatkan mantel tebal—kebesaran yang berhasil kucuri dari pos penjaga,

Sorot neon terlihat menyala-nyala di ujung belokan diiringi suara decitan khas perpaduan antara ban karet dan aspal lembab, sebuah mobil berwarna merah metalik muncul membuat sekumpulan orang yang tadinya termangu sontak berteriak-memekik, sebagian lainnya bergumam dan mengutuk.

Dibawah biasan cahaya remang lampu tiang, si pemenang balapan memarkirkan Chevrolet merahnya tanpa mengurangi sedikitpun kecepatan, memberikan kesan keren dan angkuh secara bersamaan. Ia keluar dari mobil dengan raut sumringah, rambutnya yang berwarna coklat terang terlihat janggal dipasangkan dengan iris kelabunya,

Beberapa kali tangannya mengambang di udara demi membalas high five dari ‘teman’ yang tadi telah mempertaruhkan berjuta-juta dolar atas kemenangannya.

Dan tanpa kusangka sebelumnya, tiba-tiba seorang gadis berpakaian minim mendaratkan ciuman mesra dibibirnya yang mungil, otomatis aku menahan nafas dan tanpa sadar meremas ujung mantelku tatkala aku menyaksikan bahwa ia juga membalas ciuman itu, pelupukku memanas, ulu hatiku dijalari rasa nyeri, dan bagian kiri dadaku terasa kebas. Kenapa?

Kenapa begitu?

***

Gadis itu mengerjap dua kali lalu menelan salivanya lamat-lamat, ia menikmati tiap detik ketika iris cokelatnya mampu menangkap dan merekam tiap-tiap pergerakan seorang pemuda yang tengah sibuk berkutat dengan dunianya.

Ia mungkin sudah melesat pergi menuju jalan-jalan sempit dan gelap disisi jalan, jika saja ia tak mendapat tatapan itu, tatapan yang seakan mengunci seluruh sendi tubuhnya, tatapan yang jauh lebih dingin ketimbang angin malam ini.

Sejenak, si gadis menarik nafas, mengalirkan udara dalam paru-parunya yang terasa sempit karena sebuah perasaan yang membelenggu dan sangat menyiksa. Ia merindukannya, ia sedang sangat merindukan pemuda pemilik tatapan itu.

Pemuda berambut coklat itu tak jauh berbeda, ada banyak kilasan pertanyaan yang berputar dan bertambah berkali-kali lipat setelah ia menyadari kehadiran gadis itu, setengah ragu ia bergerak, mengeliminasi  jarak mereka dan menyisakan beberapa hasta.

“Hai,” suara parau terlontar dari bibir pucat si gadis, ia merasa tak kuasa jika harus dipandangi pemuda itu barang semenit lagi,

“Hai, Kris. Apa kabar?” ujar gadis itu lagi seraya melempar senyum kaku yang dipaksakan,

Ada jeda sebentar sebelum si pemuda berkata,

“Baik.”

Dari berjuta untaian kalimat yang tersangkut di tenggorokan hanya kata pendek itu yang berhasil ia ucapkan, dan sebagai pelengkap ia memberi senyum miring yang tak kalah di buat-buat.

“Aku.. aku harus pulang—“

“Hanna—“ kata Kris nyaris berteriak sesaat setelah jemarinya yang cekatan menangkap pergelangan tangan gadis itu.

“Mau ku antar?” tanya Kris tanpa meminta jawaban karena sedetik kemudian ia telah membawa gadis itu menyebrang jalan, membuka pintu dan tentunya mengacuhkan pandangan orang-orang.

Hanna diam tak bergerak, ia tidak punya topik yang bisa digunakan untuk bahan pembicaraannya dengan Kris.

Kris sendiri juga membisu, konsentrasinya tercurah pada jalanan kosong, jantungnya berdegup kencang persis ketika pertama kali ia memegang setir.

“Ngomong-ngomong Kris, sebaiknya kau tidak mengantarku pulang kerumah,” Hanna berujar membuat sudut mata Kris tidak bisa— tidak melirik— siluet gadis itu.

“Lantas?”

“Kerumah sakit, aku harus kembali kesana,” kata Hanna dengan nada suara sedatar dan senormal mungkin sesaat sesudahnya Kris tiba-tiba me’rem mendadak mobilnya,

“Sebenarnya ada apa? Kenapa gadis baik-baik sepertimu berkeliaran selarut ini? Kenapa kau ada ditempat tadi? Kenapa tiba-tiba datang setelah pergi selama setahun?” tuntut Kris meminta penjelasan,

Hanna menggigit bawah bibirnya gusar, ia berpikir keras memikirkan alasan palsu yang paling masuk akal.

“Dan jangan coba membohongiku, Hanna.”

Hanna mendesah, merasa tertohok atas ketajaman intuisi Kris.

“Cepat antar aku, Kris.”

“Kau banyak berubah,” Ujar Kris seolah tak mendengar permintaan Hanna beberapa detik lalu.

“Kau merindukanku?”

“Tidak,” jawab Kris cepat, terlalu cepat malah.

“Oh,”—Hanna menatap gerimis dibalik kaca mobil—“Aku hanya memastikan kok,”

Keheningan kembali beradaptasi, tak ada yang berniat bersuara meskipun ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan, mereka sibuk berdebat dengan ego dan pikiran masing-masing.

“Lalu? Apa kau mau menjelaskan semuanya?” Suara rendah Kris terdengar, nadanya dingin namun penuh pengharapan.

“Tak ada yang perlu dijelaskan, Kris.”

“Tapi aku perlu tau,” Kris menatap manik cokelat Hanna, membiarkan gadis itu merasa terintimidasi olehnya “Aku perlu tau apa yang sebenarnya terjadi!—oh—aku bisa gila.” Kris memukul keras setirnya kemudian membenamkan kepalanya diantara dua lipatan tangan.

“Besok—“ Hanna menelan kalimatnya tatkala Kris kembali duduk tegap dan lagi-lagi, menatapnya.

“Besok aku ada operasi, eum—ada sesuatu yang salah dengan ususku—“

“Usus buntu?” potong Kris tak sabar dan Hanna menggelengkan kepalanya sekali, “Radang usus?” tebaknya lagi dan Hanna kembali menggeleng,

“Kanker usus,” kata Hanna, seakan telah menyelsaikan beban seluruh umat.

“Kanker usus? Itukah alasanmu? Kenapa pergi hanya karena alasan bodoh itu Hanna?! Kenapa?!”

“Astaga, Kris. Apa kau tak merasa bodoh? Kau terlalu banyak bertanya kena—“

“Jawab saja.” Suara Kris melengking menandakan ia sedang berada diatas emosi tapi iris kelabunya malah menampakan perasaan terluka.

Suara mobil melesat terdengar dari sisi kiri Hanna sebelum ia mengatakan,

“Kau salah, Kris. Ini bukan tentang kanker usus. Setahun lalu aku meninggalkanmu itu karena.. karena kesalahanmu sendiri..” Hanna memelankan suaranya, ia tak yakin selanjutnya harus mengatakan apa,

“Kau, tanpa masa depan. Saat itu kau lebih memilih bersama jarum suntik dan obat-obatan terlarang itu kan!”

“Itu dulu, Hanna. Demi Tuhan aku telah berubah, aku sudah memperbaiki semuanya.. kembalilah padaku, Hanna.” Kris meraih jemari Hanna dan meletakannya didada kiri, menuntun gadis itu agar bisa merasakan betapa kini jantungnya berdebar cepat karenanya.

“Kris, aku sudah menikah..”

Kris terdiam, ia tak bereaksi bahkan ketika Hanna menepis tangannya.

“Setahun lalu aku pergi ke korea dan menikahinya, aku bahagia Kris.. dia pria yang taat agama dan sangat menyayangiku,”

Hanna tersenyum, “Bisakah kau buka pintu mobil? Aku harus pulang..”

***

London, 29 November 2012

08:02am

Pagi itu wangi waffle dan roti panggang menyeruak memenuhi ruang dapur minimalis mengundang langkah terburu-buru seorang Pria tampan guna menuruni tangga secepat mungkin.

“Adore, Dear. Tolong pasangkan ini~” ujarnya pada seorang gadis yang sibuk mengoles selai diatas roti,

Sejenak gadis bernama Adore tadi tersenyum,

“Manja sekali, biasanya juga pasang dasi sendiri.” Keluhnya sembari pura-pura memasang wajah cemberut.

Jemari Adore seolah menari di atas dada pria itu, tak sampai dua menit dasi merah maroon itu telah terpasang rapi.

“Terima kasih,”

Cup

“Morning Kiss” kata Pria itu setelah mengecup singkat bibir Adore seraya tersenyum menunjukan dua buah lesung pipi yang merekah.

“Kenapa buru-buru sekali, Mr. Choi?” tanya Adore berusaha mengalihkan perhatiannya pada pipinya yang tiba-tiba terasa memanas.

Pria tampan itu melirik Adore sebentar lalu kembali mengunyah rotinya.

“Hanna, hari ini dia operasi.”

Senyum Adore menghambar lalu hilang seolah tertiup angin,

“Hanna.. bagaimanapun dia—“

“—Istrimu? Benar, dia adalah istrimu.. lalu.. lalu aku ini apa? Pemain pengganti? Pelampiasan? Atau malah Budak nafsumu?”

Pria itu berdiri dari tempatnya, “Adore sayang, kita sudah pernah membahas ini sebelumnya, kau—“

“Iya, tapi kau selalu menghindar, kau menggunakan perasaanku sebagai alat agar aku selalu disisimu,” Adore menundukan kepalanya, air matanya jatuh menetesi celemek merah muda yang ia kenakan.

“Kau bisa memilihku dan tetap disini, atau pergi dan jangan kembali.”

“Ya ampun, Dear. Pergi dan membiarkanmu menangis sendiri?” pria itu bergerak maju bermaksud memeluk Adore, namun gadis itu menolak dengan memundurkan kakinya selangkah kebelakang.

“Jika kau peduli padaku dan tidak ingin aku menangis tentukan pilihanmu, Mr. Choi.”

Tbc

***

Iklan

One thought on “A Choice I

  1. Ping-balik: A Choice II | serkadinata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s