A Choice II

Gambar

[Part Sebelumnya]

<a href=”https://serkadinata.wordpress.com/2013/01/18/a-choice-i/”>A Choice I</a>

***

London, 29 November 2012
08:02am
Adore masih termangu didalam mobil yang berhenti di jalur paling kiri jalan, sebenarnya mobilnya tak mogok, ia hanya ingin sejenak beristirahat karena tak kuat dengan riuh dikepala dan air mata yang mendesak jatuh.
Aroma lavender dan mint membaur, mengingatkannya kembali pada Pria itu, mengingatkannya kembali pada kejadian beberapa waktu lalu.
“Jika kau peduli padaku dan tidak ingin aku menangis tentukan pilihanmu, Mr. Choi.” Kalimat itu terlontar, sebuah permintaan yang telah Adore simpan begitu lama, ada banyak harapan dan kekhawatiran yang tersirat ketika gadis itu memikirkan jawaban yang kelak Mr. Choi katakan.
“Jawablah, Andrew.” Tuntut Adore, jemarinya meremas ujung celemek merah mudanya kuat-kuat.
“Adore, aku—“ Andrew menatap iris hitam Adore namun bayangan Hanna terus melintas cepat di kepalanya.
Ia membuka bibirnya bermaksud mengutarakan sesuatu sesaat sebelum terdengar lengkingan suara ponsel. Andrew menghela nafas, ada rasa syukur yang terselip ketika ia menekan tombol hijau,
Adore ikut merespon dengan sedikit mendelik tak rela tetapi Andrew mengacuhkannya.
“Hallo,”
‘Mr. Choi, kami dari Royal London Hospital. Begini—‘
“Oh, baiklah.. operasi itu kan. Aku akan segera kesana.”
‘Mr. Choi sebenarnya, Ny.Choi.. dia.. dia menghilang’
“Apa maksudmu? Istriku menghilang? Dia pasien. Dia sedang sakit!” racau Andrew, nampak gusar.
‘Maafkan kami, kami sangat menyesal, tapi Ny.Choi benar-benar menghilang, kami sudah mencarinya dan tak menemukannya diseluruh penjuru rumah sakit ini, Tuan.’
“Cari dia, Demi Tuhan akan kutuntut kalian jika terjadi sesuatu padanya, kerahkan polisi, keamanan—apa saja. Aku akan segera kesana,”
Andrew menutup telepon, ia kembali menatap Adore yang juga tengah menatapnya.
“Kau akan memilih istrimu?” Adore kembali bertanya, kali ini ada sedikit kepasrahan dan rasa kecewa.
Andrew hanya diam, seolah tengah mencari jawaban yang sebisa mungkin tak terdengar menyakiti hati. Tapi untuk apa, selama ini pun Adore sudah cukup kebal dengan penyakit itu.
“Apa semua yang kita lewati hanya kebetulan? Apa sentuhanmu hanya nafsu belaka? Apa perasaanku tak ada artinya?” Adore berusaha menangkap bola mata Andrew yang kini mulai bergerak mengelak dari tatapannya sebagaimana ia membiarkan air matanya menemui muara.
“Aku mencintaimu, Adore”—Andrew memulai—“Sebenarnya sangat sederhana, aku ingin kau disampingku, melihatmu tersenyum, menggenggam tanganmu di antara kerumunan, bersamamu diantara rasa lelahku—”
“Kau tidak bisa menyederhanakan perasaanku, aku lelah di nomor duakan, menjadi simpanan, pura-pura tesenyum saat semua orang memuji-muji istrimu, aku sedang tidak meminta untuk dijadikan Nyonya Choi, Andrew. Aku ingin tau pilihanmu,”
Andrew mengehela nafas,
“Maaf, Dear. Aku harus menemukan Hanna, dia sedang sakit. Maaf. Aku harus pergi.”
Andrew meraih kunci mobil sembari membawa tas kerjanya, ia meninggalkan sarapan, meninggalkan aroma kopi yang menguar dan juga, meninggalkan Adore yang tertunduk lemas dilantai dapur.
Ketika mencapai pintu, Andrew sempat mematung sejenak membuat Adore menaruh harap, menggantungkan setitik mimpi, tapi sekali lagi Adore harus menelan kepahitannya. Bukannya kembali dan memeluk Adore, Pria itu malah merogoh saku mengeluarkan seutas cincin kawin—perak yang langsung menyembul masuk kedalam jari manisnya. Adore semakin tersedu dan Andrew tetap mengabaikannya.
Adore mengutuk waktu, jika saja dulu ia tak membuang-buang waktu bersama Hero—mantan kekasihnya, jika saja ia tak meninggalkan Andrew di hari pernikahan mereka. Jika saja—jika saja— jika saja, dua kata yang membuat Adore frustasi.
‘Tinn..Tinn..’
Adore mendengar suara klakson, namun bukan untuknya melainkan seorang gadis yang tengah berjalan limbung lima meter didepannya.
Gadis itu sedikit lebih tinggi dari Adore, kulit wajahnya pucat, rambut gelapnya terurai tak beraturan. Adore menghapus air mata menajamkan penglihatan.
Tak salah lagi, gadis itu Hanna.
Adore menatap pantulan kaca spion, ada seringai tipis yang terlukis dari wajah kusutnya yang mulai menua karena menahan lara.
Rasa benci memenuhi setiap inchi kelenjar hati Adore, bergumul ria dengan rencana jahat yang seketika muncul dalam otaknya. Ia menarik pedal, menginjak gas, dan memutar kemudi.
‘BRAKK!!’
***
London, 29 November 2012
09:05am
“Sudah saatnya, Kris.” ujar seorang gadis beriris gelap, sementara sosok yang di panggilnya Kris semakin mengeratkan tautan jemarinya.
Ada jeda sejenak saat Kris mendongakan kepalanya, menatap langit-langit gereja lalu beralih pada mimbar pastur, deretan tempat duduk dan berakhir pada gadis disampingnya.
Kris tau ia sangat egois, tadi malam ketika gadis itu memilih pergi ia malah menacap gas dan membawanya kemari, ia tidak peduli jika seseorang sudah mengikatnya. Toh, saat ini dia adalah satu-satunya orang yang menggenggam jemarinya.
“Kris,” panggil gadis itu lagi, merasa sangat risih terus-terusan dipandangi.
“Aku tau Hanna, aku tau..” Kris beranjak tanpa melepas jemari Hanna yang ia genggam,
Ketika Hanna menatap lurus punggung Kris, ia tau ia akan segera bebas. Ia bisa pergi kebelahan dunia lain bersama suaminya, ia akan memiliki putra-putri yang lucu, dan hidup dengan bahagia,
Bahagia? Benarkah itu yang selama ini ia cari.
“Kris,” Hanna menekan perutnya yang terasa nyeri, “Aku bisa pergi sendiri,”
“Tapi—“ Kris menelan kembali kalimatnya tatkala Hanna melepaskan tautan jemari mereka, membuat telapaknya serasa kebas, didepan pintu gereja gadis itu melesat pergi tanpa mengatakan seucap kata selamat tinggal.
Kris ingin sekali menahannya, tapi ia tetap membiarkan gadis yang ia cintai pergi, menempuh jalan ia pilih.
Ditempat dan waktu yang sama, Hanna tak kalah kacau— ia nyaris pinsan berkat sakit yang menyerang bagian perutnya, dengan langkah limbung ia mulai mencari taksi.
Ia tak menyadari sebuah mobil yang bergerak cepat seolah mengincar tubuhnya yang ringkih.
‘BRAKK!!’
Hanna terpental, tubuhnya jatuh beradu dengan kerasnya aspal, cairan merah pekat mengalir dari tubuhnya dan dalam sekejap kelopak matanya menutup.
Suara riuh terdengar didepan gereja, beberapa ibu-ibu berteriak meminta tolong, dengan tergesa Kris menuruni tangga. Perasaan cemas berlebihan begitu saja menyelimutinya, sembari berdoa ia menyeruak dalam kerumunan.
Nafas Kris tercekat, dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan gadis yang ia cintai terkulai lemah bersimbah darah.
“Apa yang kalian lihat? Cepat bawa dia ke mobilku!” Kris mendengar seseorang berbicara nyaring nyaris membentak, membawa pemuda berambut coklat terang itu kembali kedunia nyata.
“Nona, kau harus bertanggung jawab!!” Suara lain menimpali ketika Kris tengah menggendong tubuh Hanna menuju mobil Hyundai putih yang terparkir sembarangan.
“Kau mau membawanya kemana?” ujar Kris sesaat setelah si gadis penabrak duduk di kursi supir.
“Eum.. Royal London Hospital.”
***
tbc
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s