Juliette Diary ^^

Gambar

~ The Wedding~

Hari ini pertengahan musim panas— yang sangat panas— hingga aku pasti akan melompat atau berteriak tolol jika harus berada diluar ruangan barang semenit saja. Tapi semua itu tidak jauh lebih buruk ketimbang terjebak didalam sini, tersisih diantara kalangan Aristokrat yang tengah asik membicarakan err… entahlah, kurasa bukan sesuatu yang menarik untuk gadis 14 tahun sepertiku, belum lagi kewajiban konyol yang mendikteku memakai gaun putih super menyebalkan yang panjangnya mencapai mata kaki.

“Julie,” aku mendongak dan mendapati Paman Nick yang tengah membawa dua gelas minuman, sepersekian mili sekon sebelum dia menyodorkan salah satu gelas yang berisi limun padaku.

“Bagaimana? Kau suka tempat ini?” Paman Nick bersedekap dengan lengan berototnya yang terlipat didepan dada sembari menungguku bicara.

Aku menatap langit-langit keperakan, dinding-dinding yang dipenuhi mawar putih, dua patung cupid yang ditata agar seolah mengelilingi air mancur yang berada ditengah ruangan, astaga, benar-benar Yunani sekali.

“Aku tidak suka temanya, ‘Zeus-Hera’— blah, begitu sinting.”

Alis hitam Paman Nick terangkat,

“Kau… tidak suka pernikahan ini ya?”

Aku berusaha tenang, nyaris tenang jika saja aku bisa mengontrol dengusanku yang tak seharusnya terdengar terlalu kasar.

“Aku tidak bilang begitu,”

“Kau punya calon sendiri?”

Aku menelan es lemonku perlahan, “Aku tidak mengerti maksud Paman,”

“Yeah, maksudku apa kau punya calon ibu idaman?”

Aku tak langsung menjawab sementara Paman Nick mengisi jeda dengan menyesap anggurnya.

“Ya. Tentu saja.” Kataku seraya memindai kerumunan dan menemukan Bibi Vic yang tengah mengobrol dengan relasinya, wanita itu begitu anggun mengenakan Dress putih tulang selutut, rambut hitamnya digerai sebahu dengan hiasan bandana berkilau berbentuk mahkota kecil, sederhana tapi luar biasa indah.

“Tapi sayangnya dia telah kau nikahi,”

Paman Nick terbahak, “Jangan bercanda. Untuk mendapatkannya aku harus bersaing dengan puluhan pria, Dear.”

“Diantara pria-pria itu apakah Dad termasuk?”

Paman Nick menyesap anggurnya lagi hingga tandas, sejenak dia mengela napas.

“Ayahmu adalah saingan terberatku,” ujarnya serius, mata coklatnya menatapku seduktif.

“Haah, sayang sekali ya, rupanya Dadku benar-benar mempesona,”— Paman Nick mendelik—“setidaknya bisakah kalian mengadopsiku?”

“Sepertinya tidak, kecuali kau bersedia menikah dengan putraku,” Pria paruh baya itu terkekeh, dan aku malah merasa tegang, ada gejolak aneh ketika Paman Nick menyebut-nyebut cowok yang memiliki gelar sebagai pianis muda berbakat di kotaku. Well, asal tau saja, dia bukanlah tipikal cowok keren yang memabukan atau idola sekolah, dia bahkan jarang keluar rumah untuk sekedar berolah raga, tubuhnya kurus dan kulit putihnya sepucat salju, dia sangat dingin juga menyebalkan, adakalanya aku kesal dan ingin sekali mencongkel onyx hitamnya, ada satu hal lagi, Paman Nick dan Bibi Vic menamainya, Romeo. Ah! Menyebalkan.

“Ayo Julia, angkat pantatmu sekarang,” ujar paman Nick menginterupsiku, karena saat ini Ayahku yang tampan— tidak juga, ada banyak lubang diwajahnya, yang keren— kurasa perlu dua ribu tahun lagi agar tubuhnya sekeren Paman Nick, fyang baik hati— err… sangat tidak masuk akal, yang kaya— nah, ini baru benar tapi sepertinya tidak begitu spektakuler juga sih mengingat semua itu telah diwariskan oleh kakek-nenekku.

“Ayo cepat, kau lama sekali,” kata Paman Nick gusar, Bibi Vic terus melambai-lambaikan tangannya sedari tadi karena sesaat lagi Ayahku yang— entahlah terserah kau saja— akan mengambil foto pernikahan keduanya.

“Eum… baiklaah.” Aku berdiri dari bangku dengan enggan, rasanya ada lem super lengket yang tadi kududuki.

“Oh, Rom! Kemana saja kau!” Paman Nick berseru. aku menoleh dan kemudian mendengar suara berdebum yang keras, segera saja kutekan bagian kiri dadaku, cih, ternyata benar suaranya berasal dari jantungku sendiri. Rom menatapku, tapi seperti biasa, dia sama sekali tidak menunjukan ekspresinya.

“Ayo cepat,” dia berkata lirih lalu meraih lenganku dan setengah memaksa agar aku mengiringi langkahnya yang lebar meninggalkan Paman Nick yang tertinggal dibelakang, aku merasa tegang lagi, bukan karena wajah murka sang fotografer, Ayah atau ibu baruku yang terlalu lama menunggu, bukan juga kekhawatiran akan blitz kamera yang seolah menyerangku bertubi-tubi, semua karena jari-jemariku dan Rom yang bertautan, sangat pas, sangat nyaman, sangat, sangat diluar dugaan, seolah kami telah terbiasa melakukannya tiga juta triliun kali dalam sehari, sebelum hari ini.

“Hey nona, wajahmu tegang sekali. Cobalah sedikit tersenyum,” kata si fotografer yang jelas sekali di khususkan kepadaku. Paman Nick, Ayah dan ibu baruku menatapku kesal dan menuntut  tindakan, hanya Bibi Vic yang tersenyum menyemangati.

“Rilekslah,” aku mendengar cowok disebelahku bersuara sembari terus menguatkan tautan kami, aku mendongak dan kami bersetatap sejenak,

“Tersenyumlah Juliette,” dia berujar, begitu lembut dan begitu berbeda dengan kesehariannya, kenapa seperti ini, mana Romeo yang menyebalkan, dia pasti bukan Romeo, Romeo tak boleh bersikap manis seperti ini padaku. Tidaaaak.

***

~ Why? ~

Masih di musim panas yang sama, ketika Dad dan Mom— baruku— sedang asik berbulan madu, jangan tanya padaku kemana mereka pergi, bukannya aku tak mau menjawab hanya saja aku sedikit sensitif dengan Negara asal muasal ‘Zeus-Hera’, cupid, dewa-dewa Olympus, kuil Athena dan tetek bengeknya itu.

Jika saja aku dirumah, maka aku bisa menikmati waktu sendiriku dengan berbagai hal menyenangkan, mungkin aku bisa menghabiskan persediaan cola di kulkas dan memesan makanan cepat saji; atau memborong  semua snack di mini market, semua itu memakai kartu kredit Dad— tentunya, menyelundupkan semuanya kekamar tempat aku bisa menyalakan radio keras-keras sembari membuat boneka voodoo bergambar wajah Mom, atau wajah Dad, atau bahkan wajah Rom. Hah. Semua ini karena dia, cowok itu yang membawaku kemari, ke kota Whyndam yang tenang, begitu tenangnya hingga sejauh apapun aku memandang aku hanya bisa menemukan kebun anggur, peternakan, kebun anggur lagi dan peternakan lagi, aku baru dua hari disini tapi telah nyaris mati karena bosan, disini tak ada Bibi Vic yang senantiasa membuatkan Jus mangga kesukaanku atau Paman Nick yang jago berdebat.

“Nona, apa anda membutuhkan sesuatu?” aku menoleh pada pria yang menjabat sebagai kepala pelayan manor, pria itu tak lagi muda, tampak jelas dari guratan kelabu rambutnya, dia mengenakan setelan putih hitam, khas Whyndam sekali.

“Eung… Mr.Connor, apa aku boleh menggunakan telpon lagi?”

Alis tebalnya bertaut, tapi aku tidak peduli, aku perlu menelpon Jane, aku merindukan suara cemprengnya.

“Maaf  Nona, sepuluh menit yang lalu anda baru menelpon,” Ah benarkah? “selama dua jam,” ujarnya menambahkan,

“Dan Tuan muda berpesan agar—“

“Ah iya, iya, aku mengerti!” potongku kesal sembari menggaruk punggung tanganku yang ruam, kemarin aku begitu kesal pada Romeo dan melemparnya dengan beberapa ranting pohon ek yang berserakan di halaman manor dan ternyata mereka beracun. Kurang dari sepuluh menit selanjutnya kulitku otomatis memerah, ruamnya semakin banyak karena aku menggaruknya, mau bagaimana lagi rasa gatalnya sangat menyiksa, oh Tuhan terkutuklah cowok menyebalkan itu.

“Ada apa.” Aku tersentak, bahkan tanpa berbalik pun aku yakin sekali cowok yang baru saja kukutuk sedang berdiri di belakangku.

Aku berbalik seraya memasang tampang kesal, “Kau kemana saja sih, keluar rumah pagi buta, aku hampir mati karena bosan, tahu!”

Dia tetap berekspresi datar, “Kau kan bisa menonton televisi,”

“Tidak ada acara yang bagus,”

“Kau bisa bersepeda,”

“Aku tidak suka bersepeda,”

“Waktu kecil kau selalu suka bersepeda,”

“Aku tidak kecil lagi, Rom. Umurku 15 tahun.” Kataku dengan penekanan penuh arti,

Dia tersenyum mengejek, “Tinggimu hanya 150 centi,”

“Rom!” Delikku kesal, kuhentakkan kakiku kuat-kuat nyaris melompat. “Kau yang tidak normal. Kau terlalu menjulang untuk usia 17 tahun!”

“Dan terlalu keren,”

“Sama sekali tidak!” tukasku cepat, terlalu cepat hingga aku tidak sadar suaraku begitu bergetar.

Rom menghela napas. Rambut coklatnya sedikit mencuat dari topi baseball yang dipakainya terbalik.

“Kemarin Paman James mengajakku kepabrik anggur untuk mengecek beberapa hal yang nanti perlu kulaporkan pada Ayahmu. Aku mau saja mengajakmu tapi kau kan sangat membenci bau fermentasinya, jadi aku pergi sendiri.”

Aku mengangguk-angguk, “Bukannya pabrik dibuka pukul delapan? Dan kau pergi pagi buta, Rom.”

“Well…” Romeo melepas topinya kemudian menghempaskan diri di atas sofa, membuat pantulan cahaya jendela dipenuhi debu-debu yang menari riang.

“Kemarilah,” kala aku mengambil tempat disebelahnya dia mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku kemeja, “Apotek disini cuma satu dan sangat ramai jika siang, jadi aku keluar pagi buta agar bisa membelikanmu ini,”

“Ini…”

“Salep ruam,” katanya menyelsaikan.

“Iya aku juga tau ini salep ruam, tapi… kenapa?” Aku memutar bola mata dan mulai bergerak-gerak gelisah, “Kenapa kau membelikan ini untukku? Kau kan bisa menyuruh Mr.Connor… err atau siapapun ketimbang bersusah payah membeli ini sendiri,”

Romeo menatapku sebentar, “Kau cerewet sekali sih, cuci tanganmu dan pakai salepnya, tidak usah berpikir macam-macam aku hanya tidak mau terkena omelan Mom” seusai bicara dia beranjak berdiri.

“Mau kemana lagi?”

“Mandi. Kenapa? Mau ikut?” Rom menyunggingkan senyum sinis. Aku mendengus.

“Rom,”

Dia berbalik sembari berkacak pinggang, “Apalagi?”

“Terimakasih,” dia menggaruk-garuk pelipisnya kemudian mengangguk perlahan, “Err… Bolehkah aku memakai telepon?.”

Rom mendengus, “Tidak boleh!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s